Assalamua'alaikum kakak sayang...
Surat ini dibuat dalam rangka menyikapi hari ibu. Di negara kita, tanggal 22 Desember di peringati sebagai hari ibu. Jika para anak rata-rata mengenang ibunya, lalu menulis untuk ibunya, maka hari ini mimi justru menulis sebagai ibu. Mungkin Kakak sudah baca cerita tentang hari kelahiranmu di tulisan
sebelumnya. Memang waktu tulisan itu publish di facebook, sebagian
teman-teman yang baca, mengomentari bahwa lewat perjuangan seperti itu,
sepantasnya para anak membalasnya dengan banyak kebaikan pada para ibu.
Nak,
walaupun cerita kasih sayang itu teringat olehmu, mimi-mu ini tidak
minta balasan. Bagi mimi, melahirkan bukanlah proyek balas budi.
Membesarkan seorang anak untuk kemudian diminta tanggungjawabnya sebagai
anak, rasanya seperti mengaku menjadi juragan atas tanah yang bukan
miliknya. Jika sebagian besar orangtua merasa anak adalah hak miliknya,
maka dengan rendah hati mimi mengingatkanmu, bahwa dirimu adalah
titipan. Titipan dari Allah. Allah mengizinkan kelahiranmu dari rahim
mimi, untuk memberi mimi kesempatan, bermanfaat bagimu. Bermanfaat
sebagai seorang ibu bagimu. Allah bisa mengambilmu kapan saja. Apalagi
jika mimi menyayangimu bukan karena Allah. Maka dengan sekejap Allah
akan menarik titipanNya.
Lama
bagi mimi memahami bagaimana menyayangi yang benar. Yang teringat,
mimi-mu ini begitu sayang padamu hingga takut kehilangan. Itu semakin
menakutkan nak, sebab mereka yang terlalu menyayangi, akhirnya nelangsa
karena Allah dengan mudahnya memisahkan, mengambil, menjauhkan.
Segalanya selalu seperti 'itulah hukuman bagi mereka yang lebih memilih
mencintai manusia melebihi cinta kepadaKu'.
Ketika
manusia begitu memuja dan menyayangi manusia, lalu Allah
membolak-balikan hatinya, hingga puja dan sayang itu menjadi keraguan
dan penyesalan. Jika seorang ibu mencintai anaknya melebihi cintanya
pada Allah, menganggap anaknya adalah miliknya, maka dengan sekejap,
sang anak akan dibolak-balikkan hatinya menjadi ujian bagi sang ibu,
bahkan diambil dan dijauhkan, hingga sang ibu kembali lebih dekat kepada
Allah. Lalu demikian pula jika seorang istri, menganggap suami adalah
miliknya, begitu mencintai suaminya, melebihi cintanya kepada Allah,
lalu dengan segera, Allah bolak-balikkan hati suaminya, menjadi ujian
bagi sang istri, bahkan diambil, dijauhkan, hingga sang istri kembali
mendekat kepada Allah. Itulah cara Allah 'mengerjai' manusia.
Tak
ada cara lain, mimi harus segera memupuk cinta kepada Allah, sebelum
cinta yang salah ini, membuat Allah 'mengerjai' mimi dengan
mempermainkan kakak. Allah maha pemurah nak. Mimi-mu diijinkan merasakan
mabuk kepayang karena cinta ini berbalas indah. Tak terhitung karunia
kenikmatan balasan cinta Allah segera terasa. Diantaranya adalah
mendapatkan kasih sayang lebih indah darimu nak. Mungkin kakak tak kan
ingat kata-kata apa atau pelukan dan kecupan semanis apa, atau kejadian
membahagiakan yang kakak hadirkan untuk mimi. Karena saat ini usiamu
baru tiga tahun sayang. Tapi perbedaan 'mimi sayang kakak' dengan 'mimi
sayang kakak karena Allah' sungguh jelas dan mampu membuat mimi sekuat
tenaga untuk patuh pada Allah agar selalu di sayangNya. Ketika Allah
sayang, maka tak terkira balasanNya.
Jika
kakak memutuskan menyayangi mimi, maka dari cerita mimi di atas, kakak
sudah tahu caranya. Kakak tak bisa menaruh sayang langsung kepada mimi.
Karena ingatlah Allah suka 'mengerjai'. Meski mimi terus berlatih
menjadi pribadi yang lebih lembut untuk kakak, namun ada saja waktu
dimana mimi terpeselet untuk menjadi kasar padamu sayang. Meski mimi
berusaha menjadi teman terbaik bagi kakak, tapi akan ada saatnya mimi
bodoh dan menjadi musuh yang menjengkelkanmu nak. Begitu pula saat mimi
terus memperbaiki diri menjadi ibu soleha teladan bagi anak mimi, tapi
bisa saja mimi sesat, menzalimi dan mempermalukanmu.
Pada
saat itu, jika cintamu bukan karena Allah, pasti berat bagimu untuk
mencintai dan rajin mendo'akan mimi. Begitulah cinta pada manusia karena
manusianya nak. Cinta pada manusia selalu bersyarat. Cinta jika si dia
baik hatinya. Cinta jika si dia lembut perkataannya. Cinta jika si dia
memberikan perhatiannya. Mimi dulunya jadi penasaran, bagaimana jika si
Ibu kejam, memukul, mengusir dan menyumpah anaknya. Layakkah ibu
tersebut mendapat do'a cinta dari anaknya? Karena agama kita tetap
membuat kriteria, tak kan bisa dikatakan soleh dan soleha seseorang jika
seorang anak tak mendoakan ibunya.
Itu
dia kuncinya sayang. Agama. Dalam agama kita ada Allah. Jika benar kita
percaya pada Allah, maka tak kan sedikitpun keraguan untuk taat
padaNya. Jika jelas sudah sesuatu menjadi perintahNya, maka tak perduli
ibu se-tak sempurna apa, maka sayang tetap dicurahkan. Cinta seperti ini tak akan berakhir karena apapun. Sebab mengakhirinya sama seperti berhenti menjadi kecintaan Allah. Tak pernah tak
berbalas jika kita melakukannya karena Allah. Balasan Allah selalu
terbaik.. Maka jika kakak memutuskan untuk menyayangi mimi, maka
sayangilah mimi karena Allah. Karena Allah yang menyuruh, karena Rasul
yang memberitahumu. Sayang yang demikian sesungguhnya yang terindah.
Yang demikianlah yang membuat kakak tak 'dikerjai', karena kakak
disayang oleh Allah. Jadilah kesayangan Allah ya kak? Curilah perhatian
Allah dengan bercahaya. Bergunalah bagi sebanyak-banyaknya mahluk untuk
mengumpulkan cahaya itu. Seperti do'a mimi dalam namamu. Kalila
Aylakiva, putri kesayangan pemberi cahaya dan perlindungan.
