Minggu, 22 Desember 2013

Hari Lahirmu

Dear bayi perempuan ku yang mungil…

Kamu sekecil 9,9 mm saat di USG pertama kalinya. 7 minggu 2 hari, begitu analisa peralatan canggih dokter berdasarkan ukuranmu.

Kamu mengenalkanku pada perasaan berhati-hati, tak lagi berjalan setengah berlari seperti yang paling sering kulakukan, tak lagi menyentuh makanan instan dan segala produk minuman pabrik, tak lagi cuek dengan jalan tak rata saat melaju bersama motor andalanku, bahkan tak lagi membawa ransel berat teman setiaku.

Kamu membuatku membenci bau nasi panas, bau semua jenis bumbu, bau semua macam lauk, kecuali black paper stik, chicken gordon blue-solaria, fucilli baked sosis-pizza hutt dan ayam KFC di tri-semester pertama pertumbuhanmu dalam kandunganku. Satu-satunya makanan rumahan yang bisa membuatku makan dengan lahap hanyalah ikan asin.

Kamu menjadi alasanku untuk berhak menjadi lebih manja. Mencemberutkan wajahku saat pipi-mu terlambat pulang kantor, apalagi saat awal malam ditinggal pamit untuk badminton atau footsal, bahkan ditinggal nonton tv di luar kamar sekalipun masih tetap tak rela. Aku menjadi tak suka sendirian.

Kamu menjadi penguat hati pipi-mu untuk tetap tersenyum menghadapi wajah kecut istrinya yang sensitif mudah merajuk, penambah semangatnya untuk mengangkutkan air ke dalam mesin cuci saat ada dirumah, pelembut hatinya untuk mengusapkan lotion pada kulit perut istrinya yang perih karena ukuranmu yang semakin besar dalam kandunganku, pembentuk inisiatifnya untuk rajin menempelkan head seat ke perutku memperdengarkan mozart for baby bergantian dengan lantunan ayat al qur’an setiap malam, dan pembentuk kesabarannya untuk tak pernah keberatan selalu tidur menghadapku, menjagaku dari ketakutan sepinya malam.

Kamu sempat membuat aad-adik iparku keluar malam untuk sebungkus mi rebus yang sangat khas karna berbungkuskan daun pisang, juga memberi kerjaan pada abah dafa-abangku untuk dititipi air kacang merah tiap pulang kantor, bahkan membuat bunda lily-kakak iparku  repot membawakan ketupat belah sebagai oleh-oleh dari ketapang saat ia dinas. Kehamilan di trisemester kedua-ku memang memberikan banyak permintaan. Pipi-mu dengan sabar menemani kedapur untuk mencari makanan di jam 3 pagi, mencarikan bubur atau sate sebelum kabur berangkat badminton, jadi pelanggan tetap air tahu setiap malam, hunting syrup markisa yang tidak disetiap minimarket ada, bahkan mencarikan es krim dalam gerimis jam 9 malam. Aku merasa sempat menjadi ratu.

Kamu adalah cucu yang akan disambut dengan begitu sukacita. Cucu pertama bagi nenek sederhana, cucu perempuan pertama dari anak perempuan satu-satunya dari nenek telukmulus. Menjadikan aku begitu ditoleransi bebas dari tugas rumahtangga demi banyak beristirahat, begitu dilayani demi menjaga kesehatanmu. Aku merasa seperti pasien dengan banyak perawat.

Kamu adalah hal pertamaku hingga kejadian pitam beberapa kali yang kualami hanya kukira sebagai sinyal kelelahan. Kaki hingga wajah yang membengkak kupikir hanya hal biasa bagi ibu hamil. Pusing dan mual tiba-tiba, penglihatan ganda dan mengantuk menurutku hanyalah efek samping dari kerja keras tubuhku yang sedang fokus menciptakan kamu. Tapi dokter mengamati dengan lebih seksama. Begitu hasil lab menunjukkan terdapat protein dalam urin, dia menuliskan preeclampsi sebagai hasil hipotesanya. Artinya, dokter mengajakku untuk menganggapnya sebagai hal serius. Ibu hamil yang mengalami preeclampsia berisiko tinggi mengalami keguguran, gagal ginjal akut, pendarahan otak, pembekuan darah intravaskular, pembengkakan paru-paru, kolaps pada system pembuluh darah, dan eclampsia, yaitu gangguan tahap lanjutan yang ditandai dengan serangan toxemia yang bisa berakibat sangat serius bagi ibu dan bayinya. Pada bayi, preeclampsia dapat mencegah plasenta (jalur penyaluran udara dan makanan untuk janin) mendapat asupan darah yang cukup, sehingga bayi bisa kekurangan oksigen ( hypoxia ) dan makanan. Hal ini dapat menimbulkan rendahnya bobot tubuh bayi ketika lahir dan juga menimbulkan masalah lain pada bayi, seperti kelahiran prematur sampai dengan kematian pada saat kelahiran ( perinatal death ).

Kamu adalah teman terdekatku, berada didalam diriku, membuatku selalu merasa berdua, membuatku merasa punya kesempatan berhak atas sesuatu yang sangat mahal tak ternilai. Vonis preeclampsi sempat membuatku sering termenung, khawatir Tuhan sebenarnya belum mengizinkanku untuk dititipi dirimu. Khawatir aku begitu punya banyak kesalahan hingga anugrah perasaan kehilangan pantas untuk menebusnya. Khawatir bahwa tuhan memilih sepi sebagai ujianku.

Kamu membuatku tak lagi merasa bosan duduk mengantri agar bertemu dokter, karna diagnosa preeclampsi itu malah membuatku ingin bertemu dokter setiap hari. Apalagi selama 3 x tes urin nilai kandungan protein tak berubah walau segala vitamin dan suplemen sudah ditingkatkan jumlahnya. Timbangan beratku pun tak bertambah selama 3 minggu terakhir. Dokter bahkan menyebutkan kemungkinan cuci darah jika sedikit saja kandungan protein itu meningkat, karna saat itu usia kehamilanku belum membuat dokter merasa yakin untuk mempersiapkan kelahiran.

Kamu membuatku merasa membutuhkan banyak teman untuk menenangkan panikku. Rindu nenek telukmulus, rindu abang-abangku, rindu teman-teman kumpul, rindu almarhum abah. Berteman handphone satu-satunya cara, karna tubuhku tak lagi boleh berpergian jauh. Aku merasa begitu tak berdaya dan sendirian, merasa ingin semuanya cepat berlalu.

Kamu akhirnya memaksa dokter menyuntikkan 2 x suntikan perangsang perkembangan paru-paru untuk berjaga-jaga menghadapi kelahiran prematur.  Tepat seminggu setelah suntikan kedua, detak jantungmu saat di CTG tidak menunjukkan akselarasi yang bagus. Dua hari setelah itu bahkan gerakanmu jauh berkurang. Opname untuk pemantauan lebih intensif akhirnya tak terelakkan, dan kemudian hasil observasi menunjukkan kamu mulai kekurangan oksigen.

Kamu kuajak berbicara. Kukatakan bahwa aku begitu menunggumu. Kamu dan aku sudah bertahan sejauh ini, dan aku mau kamu berjuang sedikit lagi, bertahan hingga dokter berhasil mengeluarkanmu, bertahan bersamaku didunia yang sama. Aku memintamu untuk berkata pada Tuhan bahwa kamu butuh kekuatan untuk itu. Aku berharap Tuhan lebih lunak hatinya pada permintaan bayi kecil. Aku mengajakmu berdo’a.

Kamu membuatku menghadapi ketakutanku. Ketakutan pada hal yang  tak bisa kutebak, karna aku tak kan tau bagaimana mengendalikan sesuatu yang tak tertebak. Menghadapinya membuatku lemah, aku benci menjadi lemah. Lemah membuatku bergantung, bergantung pada botol infus, pada obat-obatan,pada keteter, pada perawat, pada dokter bedah. Aku begitu takut. Dinginnya AC yang sengaja untuk membantu pembekuan darah diruang operasi menggigilkan tulangku. Bunyi roda meja yang berisikan peralatan bedah, bunyi gemerincing peralatan diatasnya, bunyi kain-kain dikibaskan dan dibentangkan ditubuhku, bunyi sarung tangan latex yang dipakai, cahaya lampu bedah yang benderang diatasku, bunyi langkah asisten dokter bedah yang hilir mudik dan bunyi mesin jantung disampingku. Semua bunyi itu semakin membuatku nelangsa. Ayat-ayat yang sedari memasuki ruang bedah kubaca dalam hati dengan maksud menenangkan hati lambat laun buyar tak beraturan. Suara dokter anestasi yang duduk di ujung kepalaku menyebutkan dengan nada datar nama obat-obatan agar diambilkan oleh asistennya semakin membuat perasaanku kacau. Di kiriku asistennya beberapa kali menyuntik tangan kiriku untuk mengetes alergi, di kananku alat tensi otomatis menekan lenganku setiap tiga menit. Di bawah sana dokter kandunganku yang memimpin pembedahan, bersama dua orang asisten-nya mengelilingi perutku tanpa tahu apa yang sudah mereka kerjakan karna perut dan kedua kakiku sudah sebal tak berasa hasil pekerjaan dokter anestasi. Ada kain pembatas yang menghalangi pandanganku kearah perut hingga aku tak kan melihat kulit perutku disayat pisau bedah. Tapi semua suara masih jelas terdengar dan menciutkan nyaliku. Ketakutan akan entah apa lagi komplikasi yang mungkin terjadi semakin membayang, apalagi sang dokter bedah yang biasanya bersuara riang dan semangat kali itu sangat serius. Hingga akhirnya tensi darahku semakin menurun memaksa dokter anestasi menambahkan biusnya di hidungku. Lalu semuanya bergerak slow motion.

Kamu menangis dua kali (setidaknya itu yang kudengar sebelum kamu dibawa untuk dibersihkan dan diperiksa), memecah semua gerakan dan suara, aku mendengarnya dalam pejam mataku. Tangisanmu meyakinkanku bahwa kamu akan terus kuat apapun kondisimu, kamu akan terus bertahan disisiku. Aku merasakan aku mampu tersenyum. Terimakasih ya Allah. Terimakasih tak terkira.

Kamu membuatku tak sabar berada 9 jam diruang pemulihan. Rasa sakit setelah efek obat bius hilang berusaha kuabaikan dengan membayangkan memeluk tubuh nyatamu. Dalam sayup suara takbir yang menghias malam lebaran, aku bertanya pada Tuhan. Inikah kemenanganku? Kemenanganku menghadapi ketakutan, hadiahku karena menjalani semua kekhawatiran, menjadi  seorang ibu.

Kamu begitu mungil. Beratmu hanya 2,4 kg dengan panjang 44 cm. Kulitmu begitu putih, kontras dengan hitam rambut lembutmu. Bibirmu mungil dan merah, pipimu begitu penuh mengkilat. Walau mata kecilmu belum dapat melihatku, kamu akan menghafal suaraku. Walau tidur membuaimu, kamu akan mengenal hangat tubuhku. Tubuh ini memang baru saja tersayat pisau bedah, tapi aku mampu menguatkan hatiku segera pulih untuk  menimangmu. Kurang dari 24 jam setelah operasi aku sudah mampu untuk duduk. Begitu dokter mengatakan luka operasiku akan lebih cepat membaik jika aku banyak bergerak, aku sudah bisa berjalan dihari kedua kelahiranmu.

Kamu adalah hal terbesar dalam hidupku. Menunggumu walau dalam kalut sangat melatih kesabaranku. Mengkhawatirkanmu justru mendekatkanku pada Tuhan. Aku menyambutmu dengan segala syukur. Menganggapmu malaikat kecil yang diijinkan Tuhan untuk menemaniku.

Kamu menjadi tujuan hidupku. Mendapat amanah menjagamu adalah permintaanku. Karna itu aku takkan mengeluh harus mengurangi jam tidurku untuk menyusuimu. Aku tak kan keberatan selalu mendekapmu untuk menyamankan tidurmu. Aku tak kan malas untuk berlari mendatangimu saat kamu menangis. Aku tak kan lama jauh darimu karna tak ingin ketinggalan melihat semua ekspresimu. Walau menu makananku tak lagi boleh pedas, walau notebook-ku harus bersanding dengan ayunanmu, walau mataku akan berkantung, walau tubuhku akan mudah letih, aku akan selalu ada untukmu.

Welcome to the world my baby girl…. Semoga menjadi anak yang soleha, pembawa kebahagiaan bagi orang disekelilingmu, menjadi putri Kesayangan pembawa cahaya dan perlindungan…seperti namamu yang kusiapkan. Kalila Aylakiva….

Amiin…







Pontianak, 9 September 2010
Rumah Gg. Sederhana.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar