Dear bayi perempuan ku yang mungil…
Kamu sekecil 9,9 mm saat di USG pertama kalinya. 7 minggu 2 hari, begitu analisa peralatan canggih dokter berdasarkan ukuranmu.
Kamu
mengenalkanku pada perasaan berhati-hati, tak lagi berjalan setengah
berlari seperti yang paling sering kulakukan, tak lagi menyentuh makanan
instan dan segala produk minuman pabrik, tak lagi cuek dengan jalan tak
rata saat melaju bersama motor andalanku, bahkan tak lagi membawa ransel
berat teman setiaku.
Kamu membuatku membenci bau nasi
panas, bau semua jenis bumbu, bau semua macam lauk, kecuali black paper
stik, chicken gordon blue-solaria, fucilli baked sosis-pizza hutt dan
ayam KFC di tri-semester pertama pertumbuhanmu dalam
kandunganku. Satu-satunya makanan rumahan yang bisa membuatku makan
dengan lahap hanyalah ikan asin.
Kamu menjadi alasanku
untuk berhak menjadi lebih manja. Mencemberutkan wajahku saat pipi-mu
terlambat pulang kantor, apalagi saat awal malam ditinggal pamit untuk
badminton atau footsal, bahkan ditinggal nonton tv di luar kamar
sekalipun masih tetap tak rela. Aku menjadi tak suka sendirian.
Kamu
menjadi penguat hati pipi-mu untuk tetap tersenyum menghadapi wajah
kecut istrinya yang sensitif mudah merajuk, penambah semangatnya untuk
mengangkutkan air ke dalam mesin cuci saat ada dirumah, pelembut hatinya
untuk mengusapkan lotion pada kulit perut istrinya yang perih karena
ukuranmu yang semakin besar dalam kandunganku, pembentuk inisiatifnya
untuk rajin menempelkan head seat ke perutku memperdengarkan mozart for
baby bergantian dengan lantunan ayat al qur’an setiap malam, dan
pembentuk kesabarannya untuk tak pernah keberatan selalu tidur
menghadapku, menjagaku dari ketakutan sepinya malam.
Kamu
sempat membuat aad-adik iparku keluar malam untuk sebungkus mi rebus
yang sangat khas karna berbungkuskan daun pisang, juga memberi kerjaan
pada abah dafa-abangku untuk dititipi air kacang merah tiap pulang
kantor, bahkan membuat bunda lily-kakak iparku repot membawakan ketupat
belah sebagai oleh-oleh dari ketapang saat ia dinas. Kehamilan di
trisemester kedua-ku memang memberikan banyak permintaan. Pipi-mu dengan
sabar menemani kedapur untuk mencari makanan di jam 3 pagi, mencarikan
bubur atau sate sebelum kabur berangkat badminton, jadi pelanggan tetap
air tahu setiap malam, hunting syrup markisa yang tidak disetiap
minimarket ada, bahkan mencarikan es krim dalam gerimis jam 9 malam. Aku
merasa sempat menjadi ratu.
Kamu adalah cucu yang akan
disambut dengan begitu sukacita. Cucu pertama bagi nenek sederhana, cucu
perempuan pertama dari anak perempuan satu-satunya dari nenek
telukmulus. Menjadikan aku begitu ditoleransi bebas dari tugas
rumahtangga demi banyak beristirahat, begitu dilayani demi menjaga
kesehatanmu. Aku merasa seperti pasien dengan banyak perawat.
Kamu
adalah hal pertamaku hingga kejadian pitam beberapa kali yang kualami
hanya kukira sebagai sinyal kelelahan. Kaki hingga wajah yang membengkak
kupikir hanya hal biasa bagi ibu hamil. Pusing dan mual tiba-tiba,
penglihatan ganda dan mengantuk menurutku hanyalah efek samping dari
kerja keras tubuhku yang sedang fokus menciptakan kamu. Tapi dokter
mengamati dengan lebih seksama. Begitu hasil lab menunjukkan terdapat
protein dalam urin, dia menuliskan preeclampsi sebagai hasil
hipotesanya. Artinya, dokter mengajakku untuk menganggapnya sebagai hal
serius. Ibu hamil yang mengalami preeclampsia berisiko tinggi mengalami
keguguran, gagal ginjal akut, pendarahan otak, pembekuan darah
intravaskular, pembengkakan paru-paru, kolaps pada system pembuluh
darah, dan eclampsia, yaitu gangguan tahap lanjutan yang ditandai
dengan serangan toxemia yang bisa berakibat sangat serius bagi ibu dan
bayinya. Pada bayi, preeclampsia dapat mencegah plasenta (jalur
penyaluran udara dan makanan untuk janin) mendapat asupan darah yang
cukup, sehingga bayi bisa kekurangan oksigen ( hypoxia ) dan makanan.
Hal ini dapat menimbulkan rendahnya bobot tubuh bayi ketika lahir dan
juga menimbulkan masalah lain pada bayi, seperti kelahiran prematur
sampai dengan kematian pada saat kelahiran ( perinatal death ).
Kamu
adalah teman terdekatku, berada didalam diriku, membuatku selalu merasa
berdua, membuatku merasa punya kesempatan berhak atas sesuatu yang
sangat mahal tak ternilai. Vonis preeclampsi sempat membuatku sering
termenung, khawatir Tuhan sebenarnya belum mengizinkanku untuk dititipi
dirimu. Khawatir aku begitu punya banyak kesalahan hingga anugrah
perasaan kehilangan pantas untuk menebusnya. Khawatir bahwa tuhan memilih
sepi sebagai ujianku.
Kamu membuatku tak lagi merasa
bosan duduk mengantri agar bertemu dokter, karna diagnosa preeclampsi
itu malah membuatku ingin bertemu dokter setiap hari. Apalagi selama 3 x
tes urin nilai kandungan protein tak berubah walau segala vitamin dan
suplemen sudah ditingkatkan jumlahnya. Timbangan beratku pun tak
bertambah selama 3 minggu terakhir. Dokter bahkan menyebutkan
kemungkinan cuci darah jika sedikit saja kandungan protein itu
meningkat, karna saat itu usia kehamilanku belum membuat dokter merasa
yakin untuk mempersiapkan kelahiran.
Kamu membuatku merasa
membutuhkan banyak teman untuk menenangkan panikku. Rindu nenek
telukmulus, rindu abang-abangku, rindu teman-teman kumpul, rindu
almarhum abah. Berteman handphone satu-satunya cara, karna tubuhku tak
lagi boleh berpergian jauh. Aku merasa begitu tak berdaya dan
sendirian, merasa ingin semuanya cepat berlalu.
Kamu
akhirnya memaksa dokter menyuntikkan 2 x suntikan perangsang
perkembangan paru-paru untuk berjaga-jaga menghadapi kelahiran
prematur. Tepat seminggu setelah suntikan kedua, detak jantungmu saat
di CTG tidak menunjukkan akselarasi yang bagus. Dua hari setelah itu
bahkan gerakanmu jauh berkurang. Opname untuk pemantauan lebih intensif
akhirnya tak terelakkan, dan kemudian hasil observasi menunjukkan kamu
mulai kekurangan oksigen.
Kamu kuajak berbicara. Kukatakan
bahwa aku begitu menunggumu. Kamu dan aku sudah bertahan sejauh ini, dan
aku mau kamu berjuang sedikit lagi, bertahan hingga dokter berhasil
mengeluarkanmu, bertahan bersamaku didunia yang sama. Aku memintamu untuk
berkata pada Tuhan bahwa kamu butuh kekuatan untuk itu. Aku berharap
Tuhan lebih lunak hatinya pada permintaan bayi kecil. Aku mengajakmu
berdo’a.
Kamu membuatku menghadapi ketakutanku. Ketakutan
pada hal yang tak bisa kutebak, karna aku tak kan tau bagaimana
mengendalikan sesuatu yang tak tertebak. Menghadapinya membuatku lemah,
aku benci menjadi lemah. Lemah membuatku bergantung, bergantung pada
botol infus, pada obat-obatan,pada keteter, pada perawat, pada dokter
bedah. Aku begitu takut. Dinginnya AC yang sengaja untuk membantu
pembekuan darah diruang operasi menggigilkan tulangku. Bunyi roda meja
yang berisikan peralatan bedah, bunyi gemerincing peralatan diatasnya,
bunyi kain-kain dikibaskan dan dibentangkan ditubuhku, bunyi sarung
tangan latex yang dipakai, cahaya lampu bedah yang benderang diatasku,
bunyi langkah asisten dokter bedah yang hilir mudik dan bunyi mesin
jantung disampingku. Semua bunyi itu semakin membuatku nelangsa. Ayat-ayat yang sedari memasuki ruang bedah kubaca dalam hati dengan
maksud menenangkan hati lambat laun buyar tak beraturan. Suara dokter
anestasi yang duduk di ujung kepalaku menyebutkan dengan nada datar nama
obat-obatan agar diambilkan oleh asistennya semakin membuat perasaanku
kacau. Di kiriku asistennya beberapa kali menyuntik tangan kiriku untuk
mengetes alergi, di kananku alat tensi otomatis menekan lenganku setiap
tiga menit. Di bawah sana dokter kandunganku yang memimpin pembedahan,
bersama dua orang asisten-nya mengelilingi perutku tanpa tahu apa yang
sudah mereka kerjakan karna perut dan kedua kakiku sudah sebal tak
berasa hasil pekerjaan dokter anestasi. Ada kain pembatas yang
menghalangi pandanganku kearah perut hingga aku tak kan melihat kulit
perutku disayat pisau bedah. Tapi semua suara masih jelas terdengar dan
menciutkan nyaliku. Ketakutan akan entah apa lagi komplikasi yang mungkin
terjadi semakin membayang, apalagi sang dokter bedah yang biasanya
bersuara riang dan semangat kali itu sangat serius. Hingga akhirnya
tensi darahku semakin menurun memaksa dokter anestasi menambahkan
biusnya di hidungku. Lalu semuanya bergerak slow motion.
Kamu
menangis dua kali (setidaknya itu yang kudengar sebelum kamu dibawa
untuk dibersihkan dan diperiksa), memecah semua gerakan dan suara, aku
mendengarnya dalam pejam mataku. Tangisanmu meyakinkanku bahwa kamu akan
terus kuat apapun kondisimu, kamu akan terus bertahan disisiku. Aku
merasakan aku mampu tersenyum. Terimakasih ya Allah. Terimakasih tak
terkira.
Kamu membuatku tak sabar berada 9 jam diruang
pemulihan. Rasa sakit setelah efek obat bius hilang berusaha kuabaikan
dengan membayangkan memeluk tubuh nyatamu. Dalam sayup suara takbir yang
menghias malam lebaran, aku bertanya pada Tuhan. Inikah kemenanganku?
Kemenanganku menghadapi ketakutan, hadiahku karena menjalani semua
kekhawatiran, menjadi seorang ibu.
Kamu begitu mungil.
Beratmu hanya 2,4 kg dengan panjang 44 cm. Kulitmu begitu putih, kontras
dengan hitam rambut lembutmu. Bibirmu mungil dan merah, pipimu begitu
penuh mengkilat. Walau mata kecilmu belum dapat melihatku, kamu akan
menghafal suaraku. Walau tidur membuaimu, kamu akan mengenal hangat
tubuhku. Tubuh ini memang baru saja tersayat pisau bedah, tapi aku mampu
menguatkan hatiku segera pulih untuk menimangmu. Kurang dari 24 jam
setelah operasi aku sudah mampu untuk duduk. Begitu dokter mengatakan
luka operasiku akan lebih cepat membaik jika aku banyak bergerak, aku
sudah bisa berjalan dihari kedua kelahiranmu.
Kamu adalah
hal terbesar dalam hidupku. Menunggumu walau dalam kalut sangat melatih
kesabaranku. Mengkhawatirkanmu justru mendekatkanku pada Tuhan. Aku
menyambutmu dengan segala syukur. Menganggapmu malaikat kecil yang
diijinkan Tuhan untuk menemaniku.
Kamu menjadi tujuan
hidupku. Mendapat amanah menjagamu adalah permintaanku. Karna itu aku
takkan mengeluh harus mengurangi jam tidurku untuk menyusuimu. Aku tak
kan keberatan selalu mendekapmu untuk menyamankan tidurmu. Aku tak kan
malas untuk berlari mendatangimu saat kamu menangis. Aku tak kan lama
jauh darimu karna tak ingin ketinggalan melihat semua ekspresimu. Walau
menu makananku tak lagi boleh pedas, walau notebook-ku harus bersanding
dengan ayunanmu, walau mataku akan berkantung, walau tubuhku akan mudah
letih, aku akan selalu ada untukmu.
Welcome to the world
my baby girl…. Semoga menjadi anak yang soleha, pembawa kebahagiaan bagi
orang disekelilingmu, menjadi putri Kesayangan pembawa cahaya dan
perlindungan…seperti namamu yang kusiapkan. Kalila Aylakiva….
Pontianak, 9 September 2010
Rumah Gg. Sederhana.



